Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato 19 September 

hari perobekan bendera belanda

Modernis.co, Jakarta – Perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada tanggal 19 September 1945 menjadi sejarah yang tidak terlupakan bagi bangsa Indonesia.

Peristiwa ini terjadi di Surabaya, sebuah kota yang menyimpan perjuangan panjang pahlawan pejuang kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan.

Perjuangan yang menunjukkan keberanian dan semangat rakyat Surabaya yang tidak mau menyerah. Berikut adalah 5 fakta menarik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato.

1. Reaksi Cepat Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Pasukan sekutu (Belanda) saat itu masih berusaha kembali meskipun Indonesia sudah menyatakan kemerdekaan. Selanjutnya, mereka datang di beberapa daerah seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Mereka menganggap kemerdekaan Indonesia belum sah. Pendaratan pasukan Sekutu membawa bendera Belanda, merah-putih-biru, dan mengibarkannya di Hotel Yamato. 

Pengibaran bendera ini memicu kemarahan rakyat Surabaya. Rakyat Surabaya langsung melancarkan serangan dengan melakukan pertempuran berdarah. Hingga akhirnya arek Surabaya bisa merobek warna biru dari bendera Belanda.

2. Ultimatum Tanpa Hasil

Sebelum insiden perobekan terjadi, Residen Surabaya, Sudirman, mendatangi perwakilan Belanda, Mr. Ploegman, di Hotel Yamato. 

Permintaan Sudirman meminta Ploegman menurunkan bendera tersebut ditolak pihak Belanda. Penolakan ini semakin memanaskan suasana. 

Massa yang berkumpul di depan hotel semakin marah. Mereka berteriak-teriak menuntut bendera Belanda segera diturunkan.

3. Tiga Tokoh Pemberani

Tiga pemuda pemberani menjadi pahlawan dalam peristiwa ini. Mereka adalah Sidik, Hariyono, dan Koesno Wibowo. Dengan penuh keberanian, mereka memanjat tiang bendera. 

Setelah sampai di puncak, mereka merobek bagian biru dari bendera Belanda. Setelah itu, Bendera merah-putih pun berkibar di langit Surabaya.

4. Simbol Perlawanan Rakyat Surabaya

Insiden di Hotel Yamato bukan hanya sekadar perobekan bendera, melainkan simbol perlawanan rakyat Surabaya yang sangat kuat. Peristiwa ini menunjukkan betapa besar keinginan mereka untuk mempertahankan kemerdekaan. 

Semangat ini kemudian dikenal sebagai “Semangat Arek Suroboyo.” Oleh karena itu, semangat ini menjadi inspirasi dan pemicu perlawanan yang lebih besar, yaitu Pertempuran 10 November 1945.

5. Hari Pahlawan Surabaya

Peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato adalah pemicu Pertempuran 10 November. Selanjutnya, tanggal tersebut secara nasional diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa 19 September merupakan titik awal perlawanan fisik yang membangkitkan semangat seluruh rakyat Surabaya dalam mengusir penuh penjajah.

Banyak jiwa dan raga berguguran dari arek-arek Surabaya yang saat itu menggunakan senjata seadanya. Sehingga, Di Surabaya peristiwa ini menjadi hal yang syarat makna sejarah.

Itulah beberapa fakta menarik tentang peristiwa perobekan bendera belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini patut mendapatkan perhatian khusus bangsa demi mengenang perjuangan heroik arek-arek Surabaya. (IF)

editor
editor

salam hangat

Leave a Comment